Saturday, 26 September 2015

Do'aku dan Do'amu




Cerpen Do'aku dan Do'amu
 karya : Nurani Puji Islami









Pagi terasa indah, Aroma bunga Melati nan harum, Burung bernyanyi dengan merdu. Suasana hati yang mendukung dengan keindahan pagi ini. Melangkahkan kaki menuju kebun bunga. Melihat bunga yang mekar membuat hati menjadi tak jenuh. Ingin daku memetik bunga itu namun sayang tak tega memisahan bunga dengan tangkainya.

                  "Terkadang kehidupan terasa indah, namun juga terkadang merasa pahit. Tak selalu hidup berjalan lurus, karena pasti ada tikungan, terkadang tikungan mudah, sedang bahkan sulit. Itulah kehidupan yang bisa digambarkan seperti jalan.
Terkadang kita berpikir bahwa hidup itu tidak susah, tapi hidup itu tidak susah kita sendirilah yang membuat hidup itu menjadi susah. Namun hidup itu bisa tidak terasa jika kita melewatinya dengan penuh keceriaan, tawakkal dan yang terpenting ikhlas. Karena dengan begitu kita bisa melewati kehidupan itu" Jakarta, 27 September 2015.

Itulah yang ku curahan dalam diary ku hari ini. Kintan Putri Novia iya itulah namaku. Usiaku saat ini genap 22 tahun. Diriku biasa dipanggil Kintan setatusku saat ini sebagai Mahasiswa di perguruan tinggi negeri. Psikolog program yang ku ambil.
Duniaku saat ini ku fokuskan untuk belajar, membangakan kedua orangtuaku. Terkadang susah mempertahankan nilai-nilaiku karena sedikit nilaiku turun itu sangat berpengaruh dengan beasiswa yang aku miliki di PTN ini.
Dengan hijab yang panjang ku tutupi auratku, dengan iman ku pelihara hatiku. Itulah bekal yang saat ini aku jalani di kehidupan ibu kota Indonesia ini. Terkadang aku selalu merindukan kedua orangtuaku yang saat ini berada di Bandung dengan do'a ku limpahkan segala kerinduan ku kepada orangtuaku.

Tak pernah ku ingin menyusahkan kedua orangtuaku, walau terkadang aku merasa kesusahan.
Tapi karena merekalah semangat belajarku selalu ada.

__________

Tak pernah ku merasakan apa itu cinta, apa itu sayang, apa itu kasih.
Yang ku tau, cinta sayang, dan kasihku hanyalah kepada Allah, Nabi dan Orangtua ku.
Mungkin, karena aku yang terlalu sibuk dengan urusan belajarku.
Namun, saat ini entah kenapa perasaanku mulai aneh, terkadang jantung berdegub kencang ketika aku bertemu dengannya.
Mahendra Putra Habibullah pria yang membuat jantung selalu berdegub kencang, yang membuat hati merasa tenang ketika belajar dengannya, yang membuat aku terasa nyaman saat kita menjalani kewajiban umat islam yaitu sholat berjama'ah.
Terkadang diriku berikir, apakah aku mencintainya? Entahlah. Bagaimana tidak dia pria yang lembut tutur katanya, sopan dengan sikapnya, sabar terhadap cobaan yang menimpanya, dan tampan rupanya. Banyak wanita yang mengaguminya termasuk diriku. Namun kurasa aku telah menyimpan rasa kepadanya.
Dulu aku berani bertemu dengannya namun saat ini aku menghindar darinya. Aku tak ingin dia mengetahui apa perasaanku sebenarnya terhadap dia.
Dihadapannya aku malu memandangnya. Namun dihadapan Allah aku terang-terangan meminta agar aku dijodohkan dengannya. Aku selalu menghindar setiap aku bertemu dengannya. Hingga pada suatu hari aku berpapasan dengan dia lalu dia..

"Assalamualaikum, Kintan (senyum)?" Sapanya.
"(Dengan hati yang berdegub kencang) Waalaikum salam Putra". Jawabku.
" Ada kesibukan hari ini?".
" Tidak ada".
"Bolekan saya mengerjakan tugas-tugas saya dengan Kintan, karena saya kurang mengerti dengan tugas yang diberikan dosen pagi tadi". Pintanya.
" (gugup) Bb-bbo-oleh".
" Kintan sakit?".
"Tidak, tidak apa Putra. Mari kita kerjakan".

Ku beri tahu maksud tugas sebenarnya, lagi-lagi aku merasa nyaman dengannya, tenang hati ini. Namun aku tak berani memandangnya.
Usai mengerjakan tugas-tugasnya aku langsung berpamitan pulang. Karena sebenarnya tadi aku merasa deg-degkan berada didekatnya.

"Assalamualaikum Putra?"
"Waalaikum salam Kintan"
"Sukses untuk kita yang akan menjalani sidang besok"
"(senyum)" Balasku.
Aku pun langsung pulang, sikap putra membuatku aneh. Hari ini dia sangat memperhatikanku. Ketika mengerjakan tugas tadi Putra bicara denganku kalau dia ingin sekali bersilaturahmi kerumahku. Maka dari itu usai aku sidang dan dirinya juga sidang aku akan mengajaknya ke rumahku walaupun aku sendiri sering deg-degkan ketika bersama dia.

______________

Teriknya matahari membuat siang ini sangat panas. Dengan jantung yang deg-degkan akan menjalani sidang. Lagi-lagi aku bertemu dengannya. dan dia berkata

"Kintan, yakinlah! Kintan pasti bisa"
"Iya Putra, Bismillahirrohmanirrohim"
"Semangat Kintan, Usai sidang nanti saya tunggu Kintan di Taman kampus ya"
"Iya Putra" Jawabku singkat yang langsung masuk ke kelas itu

Alhamdulillah..
Hari aku telah berhasil melaksanakan sidang-sidangku.
Seperti janjiku tadi, aku akan menemui Putra di Taman.

"Assalamualaikum Putra, maaf menunggu lama"
"Tidak apa Kintan"
"Ada aa puta (deg-degkan"
"Ada yang ingin Putra bicarakan kepada Kintan"
"Silahkan Putra"
"Kintan, Putra mencintai Kinta sejak awal kita jumpa. Namun Putra selalu diam sampai saat ini Putra berani mengungkapkan kepada Kintan. Tapi Kintan, Putra tidak mau berpacaran dengan Kintan karena Putra tau Berpacaran dilarang oleh agama kita. Putra mau Kintan nanti menjadi ibu dari anak-anak Putra, tunggulah Putra Kintan, Putra akan menjemput Kintan ketika Putra sudah bisa menjadi orang yang berhasil nanti, Putra akan langsung melamar dan mencari rumah Kintan di Bandung, Tunggulah untuk waktu yang mungkin lama"
"Terima kasih Putra, Kintan akan menunggu Putra sampai akhirnya kita akan menjadi pasangan yang halal"

Aku bahagia.. sangat bahagia..
Aku akan menunggunya, menunggunya sampai ia akan menjadi bapak dari anank-anaku nanti.

_________________________________________

25 Tahun, iya 25 Tahun sudah usiaku.
Saat ini aku bekerja di perusahaan swasta. Yang menempatkanu sebagai Manager utama, aku berhasil dengan belajarku selama ini.
Aku bangga bisa merubah perekonomian keluarga. Aku bahagia bisa membuat orangtuaku bahagia akan kesuksesanku ini.

Namun ada kesedihan yang mendalam dihatiku..
Dimana orang yang aku cintai tak kunjung datang menjemputnya 3 tahun sudah aku menunggunya, banyak pria-pria yang ku tolak untuk meminangku,
Terkadang aku berpikir, akankah penantian ini sia-sia?
Akankah Putra, Pria yang selama ini aku cintai masih selalu mengingatku? masih mencintaiku? Masih ingat akan janjinya kepadaku?

Takut.. iya takut terkadang aku merasa takut..
Namun aku bisa apa, hanya dengan berdoa, berdoa dan berdoa yang aku tekuni..

Merasa Jenuh dirumah, aku pergi ke taman. Dengan biasa aku melihat tanaman-tanaman yang indah disana. Hilang kesedihan hati melihat bunga-bunga yang bermekaran dan seperti tersenyum kepadaku. Sampai sore aku ditaman itu.. hingga sepi aku pun kembali ke rumah.
Sampai didepan rumah, kulihat ada mobil sedan sport berwarna putih berpakir di halaman rumahku. Aku pun masuk dan melihat...

"Assalamualaikum?"
"Waalaikum Salam Cinta" Jawabnya
"Putra.. (meneteskan air mata)"
"Putra menepati janji kepada Kintan, kini saatnya Putra meminta ijin untuk meminang Kintan"

Putra pun meminta ijin kepada kedua orangtua ku.

Hingga akhirnya kedua orangtua kita menyetujuinya. Sampai tanggal pernikahanpun ditentukan.
Sampai akhirnya kita pun resmi menjadi pasangan yang Halal.

"Taukah sayang? Aku menantimu, ku kira kau lupa akan janjimu kepadaku dulu, ku kira kau akan meninggalkanku"
"Tidak cinta, aku mengingatmu, aku selalu berdoa agar kau senantiasa menjaga cintamu hanya untukku, sampai akhirnya kita di ikatkan oleh ikatan yang halal bagi-Nya"


                                                                          *END*




No comments:

Post a Comment