Cerpen : Dialah Bidadari Surga
Karya : Nurani Puji Islami
Setiap ia melangkahkan kakinya, banyak orang menghinanya. Aku hanya terdiam melihat dia, dia dengan pakaiannya yang panjang dan lebar, hijab yang panjang menghiasi kepalanya. Tak manis rupanya, Kulit hitam yang ada pada dirinya. Namun, hati yang putih ku yakin ada padanya.
Terkadang aku merasa heran mengapa ia tak pernah sedikitpun marah dengan cacian dan hinaan menimpanya. Di kampus itu, di kelas itu, bahkan di tempat manapun.
Aku juga merasa heran, mengapa teman-temanku juga ikut memakinya. Apa karena dia tak manis, apa karena dia juga tak cantik?
Dia selalu bersikap baik terhadap teman-teman. Namun sayang, balasan dari teman-teman tak sebaik apa yang dilakukannya. Banyak orang yang menertawai wajah polosnya itu. Hingga pada saat ia terjatuh karena keusilan teman kampus aku pun lah yang menolongnya.
"Astagfirullah" Sebutnya.
"Kau tak apa?"
"Saya tak apa, terima kasih (senyum)"
Lagi-lagi dia tersenyum, tak ada keluh kesah yang ada ada wajahnya. Dia sangat sabar, aku tertarik melihatnya. Hatiku selalu merasa kagum padanya. Aku pun juga iri kepada mengapa aku tak setegar dia ketika masalah menimpaku.
_____________________________
Pagi telah menyapa, dimana kegiatan rutin yaitu kuliah yang siap ku jalani hari ini.
Namaku Liana Berliana, Kuliah adalah kesibukanku. Saat ini aku telah menjalani kuliah di Universitas Negeri. Cita-citaku ialah menjadi doter specialis kandungan. Alhamdulillah, cita-cita itu sedikit lagi aan tercapai.
Pagi itu..
kulihat dia sedang berjalan menuju perpustakaan, melihat hijab yang ada pada kepalanya sangat ingin aku menutupi kepalaku juga. Aku ingin belajar tentang cara berhijab yang benar kepadanya. Hingga pada saat itu aku berani mulai menyapanya, tak peduli aku dianggap apa nantinya oleh teman-temanku. Tak peduli meraka akan menertawaiku juga.
"Assalamualaikum Mutia?"
"Waalaikum salam Lian (senyum)"
Mutia Ramadhan Namanya, Wanita yang selama ini ku ceritakan. Wanita yang tegar, sabar, dan selalu ikhlas akan cobaan yang menimpanya.
"Bolehkah saya duduk disini?"
"Silahkan Lian, kau baca apa?"
Ku tutupi bukuku dengan tanganku, karena aku malu dengan wanita itu.
"Subhanallah, kau ingin berhijabkah?"
"Ajari saya berhijab yang benar Mutia"
"Akan saya ajari Lian, Mari ikut saya" Ajaknya.
Aku pun di ajak ke kamar mandi, entah apa yang akan dilakukannya. Selama perjalanan menuju kamar mandi, banyak orang yang menertawaiku. Banyak juga orang merasa kaget denganku. Mungkin karena aku sekarang berteman dengan Mutia. Namun, aku tak peduli akan hinaan yang akan menimpaku juga.
"Ini" Beri nya.
"Ini hijab dan bajumu". responku.
"Pakailah, saya tidak keberatan kau memakai hijab dan baju ini, bahagia saya melihat kau dengan hijab dan baju itu"
"Akan ku pakai"
Aku langsung masuk ke dalam, tak terduga terasa nyaman memakai pakaian ini. Saat ini aku harus siap manjadi bahan tawaan yang menimpaku.
Sama seperti Mutia yang saat ini selalu menjadi bahan hinaa, cacian juga tawaan.
"Subhanallah, kau terlihat cantik dengan pakaian itu Liana"
"Terima kasih Liana, ajari saya untuk bisa menuju surganya Allah"
"Bismillahirrohmanirrohim (senyumnya)"
_________________________
Seketika aku terdiam, baru pertama kali aku melihatnya menangis. Ku lihat dia di Musholla kampus. Ku lihat dia mengadu ke sang pencipta. Ingin aku menemuinya, namun ku rasa akan ku biarkan dia menangis terlebih dahulu lalu ku hampiri dia nanti.
Aku menunggu cukup lama di mushollah itu, sekitar 1 setengah jam dia baru keluar.
"Assalamualaikum Mutia?"
"Waalaikum salam Liana (senyumnya)"
Dia selalu tersenyum, seakan-akan tak ada masalah yang menimpanya.
"Ada apa dengan kau?" Tanyaku.
"Tak apa Liana, saya hanya merasa tidak enak badan (senyum)"
"Kau sakitkah? Mari saya antar pulang"
"Tidak, saya tak apa"
"Lalu mengapa kau menangis?"
"Saya hanya merindukan ibu saya"
"Kau ingin kembali ke yogja kah? Jika iya, saya berkenan untuk mengantarkan kau"
"Tidak, saya ingin menjadi orang sukses dulu. Saya tak ingin membebani orangtua saya. Biarkan ibu dan bapak saya merawat adik-adik saya"
Seketika aku terdiam mendengar ucapannya. "Benar-benar bidadari surga" Ucap hatiku.
Baru pertama kali aku mendengar ucapan seperti itu di teman kampusku. Baru pertama kali juga aku melihat matanya merah dengan bibir yang tak kuasa menahan tangis. Langsung ku berikan pundakku untuk dia menangis.
"Sabarlah, Orangtua dan adik-adik kau selalu dilindungi Allah, janganlah khawatir Mutia janganlah kau menangis lagi" Nasehatku.
Usai dia menangis, aku dan Mutia pergi menuju perpustakaan. Aku bangga dengan dia, nilainya selalu tinggi bahkan dia yang menjadi bintang di sekolah. Dengan bidik misi yang dilaluinya 2 tahun lalu.
Aku kagum dengannya, walaupun uang yang dia miliki tak seberapa masih sempatnya dia memberikan uang-uang itu kepada anak yatim piatu dan pengemis-pengemis. Tak jarang pula dia membelikan makan untuk pengemis-pengemis yang tua yang tak berdiri.
"Subhanallah, masih sempatnya kau memberikan mereka?"
"Jika bukan saya yang menolongnya, tak akan ada yang peduli dengan mereka. Mereka lebih membutuhkan dari pada saya (senyum)"
Sekali lagi aku terdiam mendengar jawabannya.
Ketika aku membeli minuman, ku lihat Mutia pingsan dengan darah yang ada pada hidungnya. Sontak aku lari menuju dia.
"Mutia, bangunlah! bangunlah". Tangisku
Dengan menangis aku mencari bantuan, namun tak ada kendaraan yang berhenti sehingga anak-anak jalanan lah yang membawa Mutia menggunakan gerobak ke rumah sakit.
_____________________________________
Setelah 3 Jam di rumah sakit, aku menanyaan keadaannya.
"Bagaimana keadaan kau Mutia?"
"Saya baik-baik saja, Tak perlu kau khawatir Lian (senyumnya)"
"Kau membuat saya takut Mutia"
"Sudah, saya tak apa. mari kita kembali"
"Tapi kau?"
"Kau antarkah saya ke asrama jika kau ingin membantuku (godanya)"
"Kau ini, baiklah, mari saya antarkan"
Namun sebelum kita menaiki mobilku Mutia sempat memberi pesan kepadaku.
Baru kali ini, ku melihat keseriusan di wajahnya, entah mengapa? Dia seperti orang yang ikhlas saat itu.
"Liana?" Sapanya.
"Iya Mutia?"
"Jadilah orang baik, yang suka membantu antar sesama, jangan pernah memandang derajat. Sabarlah, tahan emosimu jika ada sesuatu yang membuat amarahmu ada dalam hatimu. Lindungilah orang-orang yang lemah, dan yang terpenting lakukan semuanya dengan keikhlasan"
"Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau akan kemana? ha?"Candaku
"(senyum) Bolehkah saya meminta 1 permintaan kepada kau Liana?" Pintanya
"Boleh, pintalah"
"Jaga keluarga saya, lindungi mereka"
"Pasti Mutia, mereka juga keluarga saya saat ini"
"Terima kasih (senyumnya lagi)"
Kamipun telah sampai di Asrama Mutia, dia terliat fresh dan seperti tak sakit.Senang hatiku melihat dia. Kemudian aku pun kembali menuju rumahku.
____________
Usai mandi, dering telfonku berbunyi, ku lihat telfon itu dari Mutia.
Namun, setelah ku menjawab telfon itu ternyata yang ku dengar bukanlah suara Mutia, melainkan ibu ibu pengasuh disana.
"Innalillahi wainna ilaihi rojiun"
Terkejut aku mendengarkan suara itu, air mata seakan ingin menetes, bibir tak bisa berucap. Kaki tak bisa berjalan.
Tak kuasa ku menahan tangis, aku pun pergi menuju asrama.
Selama diperjalanan aku tak pernah menyangka, apakah yang dia bicarakan tadi itu pesan-pesan terakhir buatku. Apakah permintaan dia tadi adalah permintaan terakhir buatku.
Dia terlihat sehat tadi, mengapa kau meninggalkan ku Mutia?
Tangis, tangis, dan tangisku pecah ketika aku telah sampai didepan asrama. Ku lihat orangtua dan adik-adik mutia telah sampai disana.
Didepan asrama ku mencium bau yang sangat harum, harum yang mengalahkan bunga melati.
Ku peluk ibu Mutia, dia menangis di pundakku. namun aku berushaa tegar, karena ku selalu ingat dengan pesan-pesan mutia, karena pesannya yang menjadikannku kuat.
"Bu, janganlah bersedih. Memang tak akan ada orang seperti mutia, tapi saya bersedia untuk bisa menjadi mutia ibu, meskipun jika dibandingka kami sangatlah berbeda"
"Kaulah mutiaku saat ini nak"
Ku hapus air matanya.
Tak terduga teman-teman kampus datang semua, ku lihat ada penyesalan dalam diri mereka. Mungkin mereka baru menyadari akan kebaikan, dan ketulusan dari seorang mutia.
Jenazah yang sudah dimandikan, ku lihat harum itu tetap melekat pada tubuhnya, wajahnya yang bersinar dan tersenyum membuat orang-orang disekitarku merasa kagum.
Dan yang tak ku sangka, ketika aku ikut mengantarkan jenazah Mutia, ku lihat didepan rumah mutia. banyak bidadari yang memakai baju putih-putih dengan wajahnya yang semua bersinar, ku lihat Mutiaa juga ada di sana, dia tersenyum melihatku. Namun aku tak tahu apa hanya aku yang melihatnya. Ku lihat Mutia tersenyum disana. Disitulah aku merasa lega dan akan ku ingat pesan-pesan yang ia sampaikan kepadaku. Benar-benar dialah bidadari surga itu :)
*END*


